-->
Minggu, 18 Mei 2008
| Mau Sehat dan Menarik? Cobalah Mandi Sauna |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | ||||||
| Sabtu, 12 Januari 2008 | ||||||
|
Dengan berpanas-panas di dalam ruangan tertutup, racun-racun dalam tubuh akan ramai-ramai keluar bersama keringat. Rasa lelah hilang. Penampilan pun tak kusut lagi. Namun, sebelum memulainya, dianjurkan untuk memeriksakan kondisi kesehatan terlebih dahulu pada dokter.
Kalau mau berkeringat, berkeringatlah pada tempatnya dan tepat waktunya. Ini sekadar kelakar, tapi mengandung nasihat. Soalnya, berkeringat yang salah tempat dan waktu malah bisa bikin "petaka". Coba bayangkan, apa jadinya kalau sudah berdandan rapi plus harum pewangi tiba-tiba sekujur tubuh dibasahi keringat. Mungkin oleh cuaca panas atau pengapnya ruangan. Pakaian yang terseterika rapi jadi basah lengket di badan. Harum panfum pun luntur berganti asamnya keringat. Siapa yang mau mendekat kalau sudah begini? Ini namanya berkeringat tidak pada tempat dan waktunya. Berbeda kalau kita memang menghendaki keluarnya butiran keringat dari pori-pori kulit tubuh kita. Saat berolahraga misalnya. Kita malah senang bila badan basah kuyup oleh keringat saat atau usai berkeliling kompleks rumah kita melakukan joging. Itu pertanda, lemak tubuh terbakar, badan bisa tetap langsing. Kalau tidak mau capek, kita juga bisa mandi keringat dengan cara lain. Apa itu? Ya, mandi uap (steam) atau sauna. Belakangan, cara terakhir ini malah menjadi bagian gaya hidup masyarakat kota. Lancarkan aliran darah Sejak masuk ke Indonesia lima tahun lalu, mandi uap dan sauna memang cukup populer dilakukan untuk meningkatkan kesehatan & kecantikan tubuh. Karakter khas "mandi" jenis ini adalah sama-sama memanfaatkan panas. Di dalam suatu ruangan yang didesain khusus dan memberi suasana nyaman, kita dibuat berkeringat oleh panasnya suhu udara di dalamnya. Ketika kita menjalani mandi uap atau sauna, kadang-kadang dilakukan penambahan minyak atsiri. Kehadiran minyak atsini bisa membuat kulit jadi bersih, merangsang sirkulasi darah, dan bisa membantu mengeluankan bahan bersifat racun dari sel dan jaringan. Ujung-ujungnya, tubuh menjadi sehat dan jiwa pun tenang dan nyaman. Kok bisa? Panas dari steam dan sauna, menyebabkan panas tubuh meningkat 1 – 2 derajat Celcius. Dengan adanya pemanasan, mekanisme otomatis tubuh adalah melakukan perlawanan untuk mendinginkan suhu tubuh. Caranya, ya dengan mengeluarkan keringat melalui pori-pori kulit. Keringat sendiri sebenarnya campuran air, mineral, asam lemak, dan racun-racun di dalam tubuh. Oleh sebab itu, mandi uap dan sauna dipercaya sebagai salah satu cara untuk membuang racun dalam tubuh. Pemanasan juga membuat pembuluh darah di kulit melebar. Akibatnya, sirkulasi darah menjadi lancar sehingga pemberian nutrisi ke sel-sel tubuh, dan pengeluaran sisa metabolisme dari dalam sel atau jaringan, menjadi lebih baik. Pelebaran pembuluh darah juga membuat tekanan darah di dalam tubuh menurun perlahan. Denyut jantung pun ikut meningkat. Setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat Celcius, jantung akan bekerja dengan 11 denyutan lebih banyak. Suplai oksigen ke otot tubuh juga semakin baik. Namun, dr. Rachmi Primadiati MNMed, DArom, DHerbMed, CIDESCO, CIBTAC, BABTAC, spesialis kecantikan dan medical aromaterapis dari Griya Natura, klinik integratif kesehatan dan kecantikan, di Jakarta, mengingatkan, "Sebenarnya sauna dan steam ditujukan terutama untuk mereka yang kurang berolahraga. Pengeluaran keringat mereka perlu dirangsang dengan melakukan sauna," jelasnya. Pada orang yang secara fisik kurang gerak ini, otot juga menjadi tidak aktif. Aliran darah pun jadi kurang lancar. Akibatnya, asam laktat banyak yang ngendon di otot. Penumpukan itu membuat tubuh sering pegal. Nah, "Uap panas dari mandi uap dan sauna bisa melancarkan sirkulasi darah, sehingga asam laktat yang menumpuk pada otot ikut terbawa arus. Hasilnya, otot terasa lebih rileks," lanjut Rachmi. Namun, "Sauna bukan cara efektif untuk menurunkan bobot badan. Panas dari mandi uap dan sauna membuat pori-pori terbuka dan mengeluarkan kotoran bersama keringat. Yang berkurang adalah sisa-sisa metabolisme tubuh, dan bukan lemaknya," kata I Ketut Edi Mulyana, pelatih kebugaran di “Imperial Country Club”, Karawaci, Tangerang. Menurut Rachmi pun, "Penurunan bobot badan akibat pembakaran lemak akan terjadi, jika ia mampu bertahan tidak makan, setelah mandi uap dan sauna. Jika ia makan, maka penurunan bobot badan terjadi akibat penurunan air dalam tubuh, bukan hasil pembakaran lemak." Lulur setelah steam Dalam praktiknya, ada orang yang menjalani mandi uap atau sauna sekaligus dengan perawatan tubuh lainnya, seperti pijat, scrub, lulur, dan lainnya. Dalam keadaan demikian, semestinya perawatan dengan uap panas dilakukan sebelum mengikuti perawatan lain. Bukan sebaliknya. Kalau kita melakukan mandi uap atau sauna terlebih dahulu, tubuh menjadi hangat. Otot pun dalam kondisi rileks dan jaringan permukaan kulit melembap. Kondisi macam ini memudahkan tubuh menyerap bahan aktif saat dipijat, diluluri, atau diberi perawatan lainnya. Bayangkan, apa yang bakal terjadi kalau kita menjalani steam setelah dipijat. Bahan-bahan yang sudah meresap ke dalam pori-pori akan luruh kembali bersama keringat. Namun perlu diingat, meski mandi uap atau sauna memberi manfaat cukup berarti, tidak semua orang boleh menjalaninya. Orang yang berkulit sensitif, kering, dan mudah dehidrasi, atau orang tua yang pembuluh darahnya sulit melebar, disarankan untuk mandi uap (steam), bukan sauna. Mandi sauna akan membuat kulit yang mengalami proses penuaan menjadi tidak elastis dan sensitif, sehingga mudah teriritasi bila terpapar pada suhu tinggi. Sebaliknya, hawa lembap steam tidak akan mengiritasi kulitnya. Sauna juga tidak disarankan bagi mereka yang mengalami radang mata atau radang hidung akut, atau mengalami kejang jantung (angina). Penderita tekanan darah tinggi juga dianjurkan tidak melakukan mandi sauna untuk mencegah pecahnya pembuluh darah yang menuju ke otak. Orang yang mengalami kelainan jantung atau ginjal; menderita sakit kepala atau migren, diabetes melitus, hipotensi, epilepsi, penyakit menular, varises, asma, gangguan pernapasan (batuk, pilek), demam juga tidak dianjurkan mandi uap atau sauna. Demikian pula dengan Anda yang sedang menjalani diet ketat, dalam pengaruh obat atau alkohol, memiliki riwayat penyumbatan pembuluh darah; sedang hamil atau haid. Mengapa? Ambil saja contoh penderita diabetes melitus. Orang dengan penyakit degeneratif ini biasanya berkulit sensitif dan mengalami kelainan pada indera perasa. Sensitivitasnya terhadap rangsang, terutama rangsang panas juga berkurang. Bisa saja ia tidak merasa kepanasan, meskipun temperatur ruangan semakin naik hingga melebihi batas toleransi. Akibatnya bisa berabe. Pembuluh darahnya bisa pecah dengan tiba-tiba. Pada wanita hamil, panas yang melebarkan pembuluh darah dapat membuat tekanan darahnya turun. Sedangkan pada wanita yang haid (terutama pada tiga hari pertama) biasanya darah mengucur deras, sehingga mereka dapat mengalami hipotensi. Jadi, sebaiknya konsultasi pada dokter sebelum memutuskan untuk mandi uap atau sauna. Bagaimanapun, mandi uap atau sauna boleh saja dilirik. Namun, kondisi kesehatan tetap harus dipertimbangkan. Jangan sampai maunya sehat dan menarik, yang didapat malah surat rujukan dokter untuk menginap di rumah sakit. Tambahkan sebagai favorit (10) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 206
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
|
|
||||||||
|
|
||||||||
|
|







































































