|
Hingga saat ini telah banyak telaah medis yang dilakukan untuk melihat efek makanan pada tubuh manusia, berkaitan dengan komposisi bahan makanan tersebut molekul per molekul.
Hasilnya, kita tidak bisa mengklaim tomat dapat mencegah kanker payudara, kecuali menambahkan kata flavon (komponen pigmen pada tumbuhan) di sana. Tapi, tidak bisa disangkal, konsumsi serat makanan yang berkadar gizi nol (tidak ada nilai girinya) bisa meningkatkan efektivitas pencernaan manusia. Ayam saja menelan beberapa kerikil untuk membantu pencernaannya, juga karet dan beling. Artinya, sedikit banyak, ada efek kumulatif dari makanan yang mampu memberikan dampak nyata.
Satu-satunya penyembuhan oral jaman dulu adalah lewat makanan. Komposisi dan kadarnya memang perlu diatur sedemikian rupa hingga mendapatkan efek therapeutic yang diinginkan. Komposisi inilah yang dicari lewat pengalaman ribuan tahun hingga dipercaya memberikan akibat penyembuhan. Kalaupun itu hanya beisifat placebo, toh, akhirnya tetap pada penyembuhan. Kekuatan pikiran bahwa kita sudah disembuhkan dengan apa yang kita makan bisa jadi lebih berguna daripada kekhawatiran menghadapi jarum suntik dan pil-pil pahit dari dokter di rumah sakit.
Dari pengalaman ribuan tahun itulah tercetus beberapa bahan makanan tidak lazim yang selalu menimbulkan perdebatan. Di dunia makanan ada istilah sympathetic magic sebagai bentuk kebiasaan manusia menilai kegunaan makanan berdasarkan bentuknya. Banyak golongan aphrodisiac lahir dari pendekatan sympathetic magic ini. Sebagian diamini lewat penelitian laboratorium, lainnya berujung di kantong 'mitos' belaka.
Tangkur Buaya
Tangkur artinya alat kelamin jantan binatang berkaki empat atau binatang melata. Sebelum lahir sate atau masakan daging buaya, sebetulnya si tangkur sudah lebih dulu tenar. Bentuknya yang kaku dan 'tegang' mampu menimbulkan efek serupa pada 'milik' Anda. Daripada dibuang, dagingnya bisa dimasak, kulitnya dikirim ke Paris untuk dijadikan label Chanel. Tulangnya juga dipercaya mampu meringankan gejala darah tinggi. Setidaknya, bagian dari buaya yang terbuang terhitung minim. Dengan kegunaan yang sama, tangkur macan dan gajah juga dicari banyak orang. Keduanya masuk daftar restriksi di Hong Kong.
Minyak Bulus
Minyak hewani cenderung isotonis (sebangun) dengan komposisi lemak manusia. Kelembaban dan keterikatan nutrisi dalam minyak hewani mampu memberikan asupan gizi pada kulit. Dan sini, minyak bulus atau kura-kura erat kaitannya dengan kecantikan. Minyak buaya, biawak, dan ular bahkan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit.
Bayi Tikus dan Kelelawar
Yang ini kabamya menyembuhkan asthma, tetapi tidak ada penelitian medis yang mendukung pernyataan ini. Meski data-data ilmiahnya tidak ada, bukti efek daging anak tikus dan kelelawar sudah menyelamatkan banyak orang. Alasan yang sama juga melekat pada daging biawak dan cicak.
Empedu Kobra
Ini lebih ajaib lagi. Empedu kobra dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Padahal, dalam kaidah gizi, tidak ada satu zat pun yang mampu memberikan efek integral seluas 'berbagai macam penyakit'. Prof. Hanny. W, dari Institut Pertanian Bogor pernah berkelakar tentang makanan penyembuh massal ini. Ia percaya, semakin banyak efek penyembuhan satu makanan, semakin tinggi kadar kebohongannya.
Mani Gajah
Kalau Anda akrab dengan dunia gaib, selain ajian 'Jaran Goyang' dan 'Buluh Perindu' ada juga mani gajah sebagai pelengkap mantra-mantra pengasihan. Ini jauh dari penjelasan ilmiah. Bahkan, hampir tidak mungkin ditemukan penjelasan rasional dari sini. Mani gajah sengaja diambil dari gajah remaja yang puber. Proses pemanenannya harus ekstra hati-hati. Salah-salah Anda mati terinjak atau hamil. Kalau berhasil, segera dikeringkan dan dikemas dalam wadah kain katun dilabeli mantra-mantra tertulis. Ikuti semua ritual yang dibutuhkan, baca mantranya, pandangi sang 'idaman hati'. Tidak lama, ia akan-tiba-tiba-minta Anda kawini; kejutan!
Setelah berhasil, telanlah si mani gajah tadi, maka aji-ajian pengasihan itu tidak akan luntur meski Anda melakukannya pada sembilan kembang desa. "Sun tammana jabang bayine (sebut nama). Kadhung edan sida edan. Kadung gendheng sida gendheng. Aja mari mari" - Jaran Goyang. |