|
Berkeringat itu normal. Namun, jika berlebihan, bisa menimbulkan masalah. Bisa dibayangkan betapa tak percaya dirinya seseorang dalam pergaulan jika daerah ketiak selalu basah akibat produksi keringat berlebihan. Celakanya lagi bila tercium bau tak sedap. Masalah ini merupakan persoalan klasik yang amat sering dijumpai di indonesia, terkait dengan iklim tropis.
Sebenarnya berkeringat merupakan mekanisme tubuh sebagai upaya melepaskan panas dari dalam. Umumnya tubuh akan berkeringat saat mendapat rangsangan panas, baik dari dalam tubuh maupun akibat udara panas. Keringat juga keluar ketika berolahraga agar panas dari dalam tubuh keluar.
"Keringat menjadi salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mempertahankan kelembaban kulit," ucap Dr. Retno Iswari Tranggono, Sp.KK, ahli kulit dan kecantikan dari Ristra House.
Persoalan akan berbeda jika produksi keringat berlebihan dan mengalir nyaris sepanjang waktu. "Malu banget rasanya ketika bertemu klien dan ada bekas keringat di bagian ketiak kemeja saya," ujar Arien.
Pegawai swasta di kawasan Blok M ini mengaku mudah berkeringat jika merasa gugup atau emosi berlebih.
Hiperhidrosis
Keluarnya keringat berlebihan disebut hiperhidrosis. Penyebabnya adalah rangsangan berlebih pada saraf yang berhubungan dengan kelenjar keringat.
Emosi tidak tenang seperti takut, gugup, atau cemas dapat menyebabkan hiperhidrosis. Diduga faktor keturunan turut berperan. Biasanya keringat keluar di daerah tangan, kaki, ketiak, wajah, dan kepala.
Satu hal yang cukup menghibur, hiperhidrosis ini murni persoalan terlalu aktifnya kelenjar keringat. Tidak ada penyakit yang bersembunyi di balik kondisi tersebut.
"Hiperhidrosis akibat kondisi emosional hanya reaksi tubuh dan tak akan bertahan lama," kata Dr. Retno.
Keadaan sedikit berbeda bila seluruh tubuh (tak hanya ketiak) sering dibanjiri peluh di malam hari, terutama ketika sedang tidur, tak peduli cuaca panas atau dingin. Bisa jadi penyakit jadi biang keladinya.
"Biasanya diabetes melitus, penyakit paru seperti TBC, penyakit jantung, dan hipertiroid," ujar perempuan pendiri Ristra Institute of Skin Health and Beauty Science ini.
Tentu saja biasanya disertai sejumlah gejala klinis lain, semisal sering gemetar, banyak makan tetapi badan malah kurus, suhu tubuh lebih tinggi dari normal, dan lain sebagainya. Keadaan ini juga bisa disebabkan efek pengobatan yang sedang dijalani.
Bila penderitanya tidak mengalami gangguan kesehatan apa pun selain keringat berlebih ini, kemungkinan besar ia menderita hiperhidrosis idiopatik, yang artinya penyebab keringat berlebih tidak diketahui.
Memakai deodoran
Berbagai upaya sederhana sering kita dengar untuk mengatasi persoalan meresahkan bagi orang yang banyak melakukan kontak sosial dengan orang lain ini. Contohnya, minum berbagai ramuan tradisional seperti daun beluntas, kunyit asam, dan sebagainya.
Secara medis, cara paling mudah dan aman untuk mengatasi masalah keringat berlebih adalah melakukan perubahan gaya hidup, antara lain pemilihan pakaian. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian ketat, berbahan nilon, poliester, wol, serta topi, kecuali saat suhu dingin. Untuk bagian wajah, gunakan bedak bayi dengan cara ditaburkan secara merata dan tipis saja.
Selain itu, untuk hiperhidrosis yang disebabkan stres, ada baiknya penderita belajar mengelola emosinya. Bisa juga dengan menghentikan pemakaian obat yang sedang dikonsumsi jika hiperhidrosis disebabkan oleh penggunaan obat.
Penggunaan obat baru dianjurkan jika cara pertama tak berhasil. "Obat" paling mudah adalah deodoran, walau hanya mengurangi keringat untuk sementara waktu.
"Deodoran mengandung aluminium klorida yang bersifat antiperspirant atau menyerap keringat berlebih," imbuh Dr. Retno.
Bila antiperspirant biasa tidak mempan mengerem produksi kelenjar keringat berlebihan, cobalah gunakan antiperspirant dari golongan yang lebih kuat, misalnya drysol atau certain dry. Namun, pada beberapa orang yang memiliki kulit sensitif, bahan aktif yang terkandung di dalamnya kadang menimbulkan efek iritasi pada kulit. Karena itu, gunakan di malam hari, serta tidak lupa membersihkan keesokan harinya. Efek yang diharapkan biasanya akan tampak setelah 1-2 minggu.
Obat antikolinergik
Karena produksi keringat dipengaruhi oleh saraf koliner, jenis obat oral yang tepat adalah golongan antikolinergik yang dapat menekan produksi keringat. Sayangnya, seringkali timbul efek samping berupa mulut kering, mual, serta sulit buang air kecil atau buang air besar. Obat penenang biasanya tidak merespon untuk hiperhidrosis yang dipengaruhi oleh stres emosional.
Untunglah saat ini ada teknik iontoforesis, yaitu pemberian rangsang listrik pada kulit, sehingga mengganggu kerja kelenjar keringat. Keterbatasan metode ini adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terapi serta efek samping berupa iritasi kulit, rasa kering, sampai pengelupasan kulit.
Pilihan lain adalah dengan melakukan injeksi botoks di daerah yang sering mengeluarkan keringat. Botoks ini merupakan ekstrak dari racun botolinum (botolinum toxic) yang awalnya digunakan untuk mencegah kerutan pada kulit.
"Botoks digunakan untuk melumpuhkan saraf yang berpengaruh pada produksi keringat," ungkapnya.
Metode ini sedang laris digunakan di Australia dan Amerika Serikat untuk mengatasi hiperhidrosis, antara lain karena efektivitasnya tinggi (efektif selama 6-8 bulan). Efek sampingnya antara lain pasien merasa sakit, tidak nyaman, dan bisa mengalami otot wajah kaku untuk sementara.
Jika cara lain sudah tidak mempan mengatasi keringat berlebih, jalan operasi dapat ditempuh. "Dengan catatan, kalau pasien benar-benar merasa terganggu," ujarnya.
Dalam proses bedah ini, dokter akan mengangkat sebagian kelenjar keringat. Yang diangkat pun tergantung daerah yang paling banyak mengeluarkan keringat. Metode operasi ini lebih menguntungkan karena efek yang lebih lama atau permanen.
Efek samping yang timbul umumnya perdarahan selama dan sesudah operasi, infeksi, timbunan serum, radang getah bening, ketidaknyamanan pada lengan atas, rasa kebas, dan dapat timbul keloid pada orang yang memiliki bakat keloid.
Menimbulkan Infeksi dan Jamur
Selain menyebabkan masalah sosial seperti kurangnya rasa percaya diri, keringat berlebih bisa menyebabkan beberapa masalah yang dapat mengganggu, seperti berikut ini:
1. Infeksi jamur Orang dengan keringat berlebih rentan terkena infeksi jamur. Jamur senang berkembang biak di daerah lembab, semisal sepatu yang basah akibat keringat berlebih. Itulah sebabnya jari kaki lebih sering terkena serangan jamur dibandingkan dengan jari tangan. Infeksi jamur biasanya ditandai dengan adanya bintik berwarna kuning atau putih di bawah kuku. Infkesi jamur ini mudah sekali menyebar.
2. Rasa terbakar di sekitar selangkangan Infeksi jamur dapat menyebabkan rasa terbakar di sekitar selangkangan. Selain itu, rasa terbakar ini dapat menyebar ke daerah bokong dan pinggang. Infeksi ini dapat ditularkan melalui kontak langsung, semisal saling pinjam pakaian atau handuk.
3. Infeksi bakteri Keringat berlebih memberi kontribusi pada terjadinya infeksi bakteri, terutama di daerah folikel rambut dan jari kaki. Bercak dan infeksi yang disebabkan oleh virus Papilloma (HPV) sangat mudah tumbuh di daerah seperti ini.
4. Timbulnya ruam atau bercak atau biang keringat Ruam timbul akibat pori-pori di sekitar kelenjar keringat tersumbat oleh keringat, hingga menyebabkan bercak berwarna merah yang dikenal dengan nama biang keringat. Biang keringat ini biasanya timbul di bagian punggung, dada, atau lengan.
Kenapa Keringat Membanjir
• Kadang tanpa sebab jelas, mungkin karena aktivitas berlebihan dari sistem saraf simpatik yang mengirim rangsang ke kelenjar keringat. • Konsumsi makanan banyak bumbu, minuman panas dan mengandung kafein atau alkohol. • Asupan obat antipsikotik untuk pengobatan gangguan mental dan morfin. Begitu pula analgesik dosis tinggi. • Menopause. Seringkali wanita menopause terbangun di malam hari bermandi keringat akibat menurunnya kadar hormon estrogen. • Menurunnya kadar gula darah (hipoglikemia). Umumnya terjadi pada penderita diabetes dengan terapi insulin. • Demam. Terjadi bila suhu tubuh meningkat di atas normal. Saat suhu turun, tubuh banyak berkeringat untuk mengeluarkan kelebihan panas. • Hipertiroid. Akibat kelenjar tiroid banyak menghasilkan hormon tiroksin bisa meningkatkan kepekaan rasa panas, sehingga tubuh berkeringat. • Serangan jantung. Gejalanya berupa nyeri bagian dada yang menyebar ke bahu, lengan, atau punggung, napas berat. • Tuberkulosis (TBC}. Gejalanya antara lain batuk, demam ringan, dan berkeringat di waktu malam. • Penyakit kanker. Beberapa jenis kanker seperti leukemia dan kanker limfoma dapat menyebabkan keringat berlebih.
Tip Terhindar dari Bau Tak Sedap
Sudah keringatnya banyak, bau pula. Hal ini bisa membuat si empunya tubuh mendapat masalah jika membiarkannya.
Tentunya tidak menyenangkan jika acara kencan dengan pujaan hati berantakan akibat bau keringat. Keringat sebenarnya tidak berbau, tetapi bila sudah bercampur dengan bakteri di tubuh, bisa menimbulkan bau yang tak sedap.
Berikut beberapa saran untuk mengatasi bau badan akibat keringat: • Mandi setiap hari. Mandi akan membantu mengurangi jumlah bakteri di kulit Anda. • Keringkan kaki dengan seksama. Mikroorganisme bisa hidup di daerah lembab di antara jari-jari kaki. Bila perlu, gunakan bedak untuk mengurangi kelembabannya. • Gunakan sepatu dan kaus kaki dari bahan alami. Sepatu kulit bisa mengurangi keringat dengan membiarkan kaki bernapas. Kaus kaki dari bahan katun atau wol membuat kaki kering karena bisa mengurangi kelembaban. • Tukar sepatu. Biarkan sepatu kering seharian. Sebisa mungkin jangan memakai sepatu yang basah dan lembab akibat keringat. • Sering ganti kaus kaki. Ganti kaus kaki dan stoking satu atau dua kali sehari, dan keringkan kaki sebelum memakainya. • Biarkan kaki bernapas. Gunakan sepatu dengan model terbuka atau bertelanjang kaki bila memungkinkan. • Kenakan baju dari bahan alami. Pakai baju dari bahan katun, wol, atau sutra agar kulit bisa bernapas. Saat berolahraga, kenakan pakaian yang menyerap keringat. • Gunakan antiperspirant. Gunakan antiperspirant di ketiak atau di telapak tangan dan kaki. Deodoran hanya menghilangkan bau tanpa mencegah keringat. • Coba teknik rileksasi. Cobalah yoga atau meditasi. Latihan ini bisa membantu Anda mengontrol stres yang menyebabkan Anda berkeringat. • Ubah pola makan. Hindari minuman berkafein dan makanan beraroma kuat seperti bawang. |