|
Penyakit demam berdarah diperkirakan masih menjadi momok yang menakutkan pada tahun depan, terutama saat pergantian musim dan nyamuk aedes aegepty sedang marak berkembang biak.
Nyamuk aedes menularkan virus demam berdarah dengue (DBD) melalui liurnya saat menggigit korban. Tidak pandang bulu siapa yang menjadi korban, dari semua latar belakang sosial dan usianya.
Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara tropis, sebagai habitat nyamuk aedes hidup dan beranak pinak. Selain itu, tingkat kebersihan lingkungan di seluruh Tanah Air masih tergolong rendah.
Direktur Medis Glaxo Smith Kline (GSK) Fransiscus Chandra mengatakan upaya pencegahan DBD harus terus dilakukan mengingat jumlah penderita penyakit mematikan itu cenderung meningkat.
Pada tahun ini hingga November 2007 jumlah penderita penyakit DBD mencapai 127.687 orang dengan korban meninggal sebanyak 1.292 orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan jumlah pada periode yang sama 2006 sebanyak 114.656 orang dengan jumlah korban meninggal 1.196 orang.
"Dari data Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan RI itu menunjukkan bahwa penderita demam berdarah dengue cenderung terus meningkat dan itu harus kita cegah," katanya
Sementara itu, Ketua Divisi Infeksi dan Penyakit Tropik Departmen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Alan R. Tumbelaka mengatakan kebanyakan korban menjadi lebih parah karena terlambat penanganan dan tidak segera di dibawa ke dokter.
Sebab, lanjutnya, gejala khas pada kasus DBD adalah demam tinggi secara mendadak selama tiga hari pertama disertai turunnya demam pada hari ketiga dan keempat yang diserta syok dan diikuti naiknya suhu badan sehingga menyerupai pola pelana.
Menurut Alan, upaya perawatan di rumah dapat dilakukan dengan memberikan asupan cairan yang cukup, dikompres atau diberikan obat penurun panas untuk meringankan demam penderita.
Obat penurun demam yang aman dan sesuai untuk meringankan demam yang dicurigai DBD adalah parasetamol, dan segera berkonsultasi ke dokter.
Hipertensi
Gaya hidup masyarakat yang gemar menyantan makanan enak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Apalagi, tidak diimbang dengan olahraga teratur. Tapi, awas bahaya penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi membayangi penggemar makanan seperti itu.
Bahkan, jumlah penderita hipertensi diprediksikan bakal meningkat menjadi 1,6 miliar orang menjelang 2025. Penyakit ini merupakan pintu terkena penyakit gagal jantung, serangan jantung, stroke, gagal ginjal dan kebutaan.
Hipertensi ini muncul ketika volume darah meningkat dan atau saluran darah menyempit, sehingga jantung harus memompa lebih keras untuk menyuplai oksigen dan nutrisi kepada setiap sel di dalam tubuh.
Sayangnya, keberadaan penyakit ini seringkali tidak disadari oleh si penderita hingga ajal menjemputnya.
"Penyakit ini tidak ada gejalanya. Hipertensi juga tidak melulu terjadi pada mereka yang bertubuh gemuk. Mungkin hanya sepertiga yang bertubuh gemuk terkena hipertensi," kata pakar hipertensi RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, dokter spesialis jantung Budi Setianto.
etiadaan gejala pada hipertensi ini membuat kita tidak menyadari kalau hipertensi telah menyerang tubuh. Akibatnya, penanganan ataupun pengobatannya seringkali dilakukan dengan cara tidak tepat atau tidak memadai.
Cara yang tepat untuk mendeteksi kemungkinan hipertensi ini, menurut Budi dengan melakukan pemeriksaan darah dua tahun sekali bagi usia 20 tahun dan satu tahun sekali untuk usia 30 tahun.
Walaupun teknik pengobatan hipertensi telah berkembang lebih maju, kesadaran terhadap penyakit hipertensi tetap penting dimiliki oleh setiap individu agar kualitas hidupnya lebih baik.
Sebaliknya, ketidakpedulian terhadap penyakit 'pembunuh diam-diam' ini akan merugikan bagi kesehatan tubuh dan masa depan setiap individu.
Tidak hanya itu, seiring dengan meningkatnya tekanan hidup, jumlah orang yang terkena penyakit jiwa, seperti stres dan depresi pun kian meningkat. Tengoklah meningkatnya angka bunuh diri, dan jumlah pasien di RS Jiwa.
Tidak hanya penyakit itu, seiring dengan pemanasan global jenis penyakit yang menyerang manusia akan semakin banyak, misalnya, flu burung yang diperkirakan para ahli menjadi pandemi global dan HIV/AIDS yang semakin luas menyebar. Jadi berhati-hatilah. |