| Menelisik Kehalalan Keju |
|
|
|
| Written by Administrator | |||
| Tuesday, 27 January 2009 07:00 | |||
|
Meski tak populer, konsumsi keju masyarakat Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Umumnya, keju digunakan untuk pelengkap roti atau kue. Makanan asal Italia, piza dan spageti yang notabene menggunakan keju, banyak peminatnya.
Bahan utama pembuatan keju adalah susu. Paling banyak digunakan adalah susu sapi. Peringkat berikutnya adalah susu kambing. Penyakit atau masalah kesehatan ini dapat dibantu penyembuhannya dengan mengkonsumsi Susu Kolostrum secara rutin. Pada dasarnya pembuatan keju akan melalui lima tahap. Pertama, tahap persiapan susu, langkah kedua adalah koagulasi atau penggumpalan susu menggunakan enzim atau asam yang kelak menghasilkan curd (bagian susu yang tergumpalkan) serta whey (bagian susu yang berbentuk cairan setelah curd terbentuk dan dipisahkan). Langkah ketiga adalah pemisahan whey untuk mendapatkan curd, selanjutnya pengolahan curd dan langkah kelima adalah pematangan keju. Pada tahap persiapan susu, dilakukan penjernihan susu agar susu bebas kotoran, standarisasi komposisi susu. Juga pasteurisasi (pemanasan pada suhu dan waktu tertentu) guna membunuh bakteri patogen (kuman yang dapat menyebabkan penyakit) dan bakteri yang dapat merusak susu. Menurut dosen Teknologi Pangan dan Gizi IPB, Anton Apriyantono, pada tahap koagulasi inilah yang merupakan tahap yang kritis dari segi kehalalan keju. ''Untuk menggumpalkan susu terkadang ada bahan yang akhirnya keju menjadi tidak halal,'' ujarnya. Ada tiga cara melakukan koagulasi ini, kata Anton. Cara yang paling sering dipakai adalah menggunakan enzim -- salah satu protein yang berkemampuan mempercepat reaksi biologis -- yang kemudian disebut sebagai koagulan. Koagulan yang digunakan adalah yang berasal dari perut sapi muda (anak sapi) yang disebut dengan rennet. Pada saat ini rennet tak hanya diperoleh dari perut sapi muda melainkan juga perut sapi dewasa, anak kambing, kambing dewasa, domba dan babi. Koagulan juga ada yang berasal dari mikroorganisme, tumbuh-tumbuhan dan hasil fermentasi GMO (Genetically-Modified Organism, mikroorganisme yang telah diubah genetiknya). Penggunaan koagulan rennet ini biasanya dilakukan bersama-sama dengan penambahan bakteri asam laktat yang digunakan pada metode kedua. Penambahan ini bukan hanya untuk menghasilkan asam yang akan memudahkan proses penggumpalan susu. Melainkan pula untuk menghasilkan cita rasa tertentu. ''Dari segi kehalalan, penggunaan koagulan dari hewan rawan menghasilkan keju yang haram,'' tambah Anton. Di luar negeri, keju yang terbuat dari koagulan yang berasal dari mikroorganisme, dapat dikenali melalui daftar ingredient dalam kemasannya, yang disebut sebagai microbial rennet. Informasi ini sangat berguna bagi para vegetarian dan kaum Muslim. Cara penggumpalan kedua, adalah melalui penambahan asam yang dihasilkan bakteri asam laktat ke dalam susu. Bisa juga asam organik, seperti asam sitrat, asam asetat, asam tartarat, atau whey yang telah diasamkan. Dari segi kehalalan, perlu dicermati media yang digunakan untuk pertumbuhan bakterinya, karena biasanya terdiri dari komponen susu dan nutrien lain seperti ekstrak khamir (yeast extract), mineral, dan vitamin. Cara ini lazim diterapkan dalam memproduksi keju cottage dan keju krim. Ekstrak khamir bisa tidak halal jika diperoleh sebagai hasil samping industri bir, atau jika untuk memproduksinya menggunakan media yang mengandung bahan yang tidak halal. Cara selanjutnya untuk menggumpalkan susu dengan menggunakan asam dan pemanasan tinggi. Setelah tahap koagulasi selesai maka akan menghasilkan curd. Tahap pengolahannya bergantung tergantung pada jenis keju yang akan dihasilkan. Pada tahap ini dapat dilakukan penambahan garam atau perendaman dalam larutan garam, penambahan kapang (jamur) seperti pada pembuatan keju Camembert/Brie, pengepresan (untuk menghasilkan keju Gouda dan Edam), pemanasan, pengadonan, dan penarikan (stretching) seperti pada pembuatan keju pasta filata (keju piza atau Mozarella). Tahap terakhir dalam pembuatan keju adalah tahap pematangan. Untuk beberapa jenis keju, tahap ini tak dilakukan. Misalnya, keju pasta filata (Mozarella), cottage dan krim. Dalam tahap pematangan, keju disimpan pada suhu rendah dan kelembaban tinggi. Kisaran waktu pemeraman 1-2 minggu hingga 8 bulan. Pemeraman bertujuan menumbuhkan dan menghambat mikroorganisme yang diinginkan dan yang tidak. Hal tersebut terkait dengan pembentukan citarasa serta tekstur yang sesuai keinginan. Pada pembuatan keju, produsen kerap menambahkan enzim untuk menghasilkan citarasa yang disukai. Penambahan enzim ini menambah titik kritis kehalalan keju. FORTICO susu bubuk skim dengan kolostrum diformulasikan dan dikembangkan secara khusus oleh Smart Naco, Sdn, Bhd. ini adalah komponen Bio-aktif yang diperoleh dari sumber bahan terbaik dari New Zealand untuk meningkatkan kesehatan secara maksimum. Dapatkan Susu Kolostrum FORTICO original hanya di SusuKolostrum.com. Untuk pemesanan silahkan sms nama, alamat, nomor telepon dan jumlah pesanan ke 085692263999. Ongkos kirim GRATIS ke seluruh Indonesia.
|
Berita Terbaru
| Produk Baru: Chlocyanin 21/05/2012 | Administrator Mulai tanggal 1 Juni 2012, kami menyediakan produk baru yang bernama Chlocyanin. Chlocyanin adalah serbuk minuman alami yang merupakan perpaduan antara KLOROFIL (CHLOROPHYLL) yaitu pigmen hijau d [ ... ] | Berita Lainnya | |
Berita Kesehatan
| Hati-Hati...Susu Formula Bikin Bayi Kegemukan Lho 06/06/2012 | Administrator Bayi yang mengkonsumsi susu formula ternyata adalah yang paling rawan mengalami kegemukan pada usia lima tahun.Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya berat badan bayi dalam waktu yang lebih [ ... ] | Berita Lainnya | |
Artikel Terbaru
| Alquran dan Sains: Manfaat Air Susu Ibu (ASI) 25/04/2012 | Administrator Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal Setelah proses penciptaan dan perkembangan janin sempurna, maka janin tersebut siap untuk meninggalkan tempat di mana selama ini ia tempati, y [ ... ] | Artikel Lainnya | |
Artikel Kesehatan
| Anak Alergi Susu, Kok Bisa? 04/04/2012 | Administrator Alergi susu dapat diartikan ketika sistem kekebalan anak keliru dalam mengenali protein susu sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dilawan. Gejala yang terjadi pada alergi susu sapi secara umum ham [ ... ] | Artikel Lainnya | |
Tips Kesehatan
| Pengapuran? Bukan Susu Obatnya 04/04/2012 | Administrator Selama ini, masyarakat awam sering menyamakan osteoporosis dengan pengapuran. Padahal, menurut ahli ortopedik, dr Andre Pontoh, SpOT, kedua hal ini beda jauh. Menurutnya, Osteoporosis adalah penyakit [ ... ] | Tips Lainnya | |
Info Sehat
| Mengenal Susu dan Manfaatnya 22/05/2012 | Administrator Dalam menu sehat dikenal istilah "empat sehat lima sempurna". Penyempurna ini adalah susu. Istilah ini tidak berlebihan karena minuman putih bersih ini memiliki kandungan nutrisi yang lengkap diband [ ... ] | Info Lainnya | |
Data Penyakit
| Polip Di Usus Besar & Rektum
Polip Di Usus Besar & Rektum
DEFINISI
Polip adalah pertumbuhan jaringan dari dinding usus yang menonjol ke dalam usus dan biasanya tidak ganas. | Data Lainnya | |
















