Orang berperawakan gemuk tampaknya tak dapat lagi menikmati kegembiraan, karena sebuah studi menemukan hubungan kuat antara kegemukan dengan depresi dan gangguan suasana hati lainnya.
Apakah obesitas yang menjadi penyebab masalah ini atau hasil dari kegemukan itu sendiri tidaklah jelas, namun ada sejumlah teori yang mendukung argumen tersebut.
Depresi seringkali menyebabkan orang menghindari aktivitas, dan beberapa obat yang digunakan untuk terapi penyakit mental dapat menyebabkan pertambahan berat badan. Di sisi lain, kegemukan terlihat sebagai sebuah stigma dan orang dengan berat badan berlebih sering mendapat perlakukan yang tak menyenangkan dari lingkungan.
Studi pada lebih dari 9.000 orang dewasa menemukan bahwa gangguan suasana hati dan kecemasan termasuk depresi terdapat pada 25% orang kegemukan dibanding mereka yang tidak gemuk. Hasil penelitian yang diterbitkan di Archives of General Psychiatry, edisi Juli, dipimpin oleh Dr. Gregory Simon, seorang peneliti di Group Health Cooperative, Seattle, sebuah lembaga nirlaba yang berada di Pacific Northwest.
Pesan yang harus dipelajari para dokter, menurut Dr. Wayne Fenton dari the National Institute of Mental Health, yang mendanai studi tersebut, adalah agar mereka lebih mencari dan mengamati depresi yang terjadi pada pasien yang kegemukan.
Sekitar sepertiga populasi orang dewasa di AS mengalami kegemukan, dan depresi menimpa 10% dari populasi atau hampir 21 juta orang dewasa per tahun!
Studi juga menemukan hubungan kuat antara kegemukan dan penyakit mental sama kuatnya pada pria dan wanita, berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa wanita lebih gampang terkena gangguan mental dibanding pria. Last update : 04-08-2008 23:45
|
|
|
Users' Comments  |
|
Average user rating
(0 vote)
|
|
Add your comment
|