|
DEPRESI terjadi saat stress yang dialami seseorang tidak kunjung reda. Gejala klinis depresi meliputi suasana perasaan murung, kehilangan minat, kehilangan energi, kehilangan rasa percaya diri, pesimistis, putus asa, gangguan tidur, dan gangguan selera makan.
Terapi untuk menghilangkan gejala sindrom depresi diperlukan agar masalah ini tidak berkembang lebih parah. Selain terapi medikamentosa, penata laksanaan depresi bersifat komprehensif. Penderita depresi hendaknya diberikan psikoterapi, seperti terapi kognitif, perilaku, psikodinamik, terapi kelompok.
"Karena depresi berisiko osteoporosis, penderita depresi juga diberikan terapi pengganti hormon estrogen yang hilang," tutur dr Nurmiati Amir SpKJ.
Menurut dia, depresi dapat terjadi saat premenstrual disorder, postpartum depression, atau memasuki masa menopouse. Di samping penggunaan obat-obatan untuk mengatasi gejala depresi, diberikan pula terapi hormon untuk menyeimbangkan kembali ketidakstabilan hormon.
"Misalnya, saat memasuki masa menopouse diberikan pula estrogen replacement therapy (terapi pengganti hormon). Pemberian terapi hormon ini diharapkan dapat mengurangi risiko osteoporosis termasuk ke dalam silent disease. Sebab, jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat atau kondisi itu berlanjut, akan menyebabkan patah tulang."
"Ketika seseorang diketahui mengalami depresi walaupun dalam tingkat sedang, kemungkinan akan berisiko kehilangan massa tulang yang menyebabkan patah tulang sehingga sangatlah penting untuk mendapatkan perhatian lebih," ucap Nakamura.
Semakin cepat mengetahui sedini mungkin, akan semakin baik dan mengurangi risiko patah tulang. "Kini dapat diketahui bahwa depresi merupakan sebuah 'bendera merah' bahwa perempuan depresi kemungkinan akan mengalami risiko patah tulang yang sama seperti wanita menopouse," tandasnya. Tambahkan sebagai favorit (32) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 620
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |