|
PENGETAHUAN yang terbatas tentang asma membuat penyakit ini seringkali tidak tertangani dengan baik. Akibatnya, jumlah penderita dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Asma merupakan penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas yang menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas terhadap berbagai rangsangan. Akibatnya, timbul gejala episodik berulang seperti napas berbunyi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk- batuk terutama malam menjelang dini hari.
Penyebab utama asma yang paling sering adalah atopi atau alergi. Adapun penyebab lain dari penyakit keturunan ini antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, hingga asap obat nyamuk. Walaupun muncul secara periodik, jangan meremehkan penyakit ini.
Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, penderita asma pada 2025 diperkirakan mencapai 400 juta. Prevalensi asma di dunia sangat bervariasi dan penelitian epidemiologi menunjukkan peningkatan kejadian asma, terutama di negara-negara maju.
Adapun di Indonesia, penyakit asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian. Selain mengganggu aktivitas, asma tidak dapat disembuhkan. Bahkan, dapat menimbulkan kematian. Data WHO memperkirakan, pada 2025 di seluruh dunia terdapat 255.000 jiwa meninggal karena asma.
Jumlah ini dapat meningkat lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang un-derdiagnosed. Sebagian besar atau 80 persen kematian justru terjadi di negara-negara berkembang. Tingginya angka kematian akibat asma banyak karena kontrol asma yang buruk. Hal ini juga karena sikap pasien dan dokter yang sering kali meremehkan tingkat keparahannya.
"Asma yang tidak terkontrol bisa menyebabkan kematian pada penderitanya karena napas bisa tiba-tiba terhenti. Asma tidak bisa disembuhkan, kalaupun sembuh hanya gejalanya saja yang hilang," kata Wakil Ketua Dewan Asma Indonesia (DAI) Prof Dr dr Heru Sundaru SpPD KAI di sela-sela seminar peluncuran Dewan Asma Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Namun, yang perlu diperhatikan, bila asma dapat dikendalikan, maka risiko kematian dapat dicegah. Karena gejala asma tidak sering muncul, maka perlu penanganan yang tepat. Penyakit asma tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan yang ada karena obat tersebut hanya berfungsi menghilangkan gejala. Namun, dengan mengontrol penyakit asma, penderita bisa bebas dari gejala penyakit yang mengganggu.
Ketua Dewan Asma Indonesia Prof Dr Faisal Yunus PhD Sp P(K) FCCP menambahkan, untuk menjadikan asma terkontrol diperlukan kerja sama antara dokter, pasien, dan masyarakat. Banyak penelitian menunjukkan, pencapaian level kontrol pasien asma di Indonesia sangat rendah. Hal ini berkorelasi positif dengan rendahnya penggunaan obat pengontrol (inhaled corticosteroid).
"Kondisi di Indonesia, pasien asma yang benar-benar terkontrol tidak ada. Bahkan, sebagian besar penderita asma tidak terkontrol," kata Prof Faisal. Menurut dia, sebagian dokter masih enggan meresepkan obat pengendali dengan berbagai alasan seperti tidak cukup waktu untuk menjelaskan cara penggunaan obat hirup yang benar, penulisan resep relatif lebih kompleks dan takut pada efek samping penggunaan stereoid.
Padahal, kontrol yang baik ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru-paru, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
"Penggunaan obat inhaler cukup satu kali dalam 1-2 bulan, jika dibandingkan dengan obat oral. Penggunaan inhalasi juga dapat menurunkan frekuensi serangan. Semakin dini penggunaan obat inhaler, semakin baik hasilnya," tandasnya. Namun, sebagian pasien masih berpikiran bahwa asma yang dideritanya tidak akan membaik jika tidak minum obat.
Karena itu pasien lebih memilih obat minum dibandingkan inhalasi. Beragam alasan dijadikan pijakan seperti sosioekonomi, yakni pasien beranggapan akan mengeluarkan jumlah uang yang relatif lebih besar pada satu waktu untuk membeli inhaler. Karena itu obat oral dianggap lebih ekonomis. Di samping itu, akibat kekurangtahuan sering kali pasien masih terlalu rendah menilai derajat asma dari keadaan sebenarnya.
Pasien juga bisa menganggap dirinya selalu terkontrol dengan baik sehingga pengobatan yang dilakukan tidak sesuai derajat berat asma. "Padahal, kalau dikalkulasikan, penggunaan obat oral tiga kali sehari, sedangkan obat semprot hanya sekali penggunaan tiap hari," ungkap Faisal.
Terapi Plus Olahraga
Gejala sesak napas yang sering kali dikeluhkan penderita asma sangatlah menjengkelkan. Gejala itu akan semakin menyiksa jika kekambuhan lebih dari satu atau dua kali dalam seminggu. Akibatnya, kinerja dan aktivitas seseorang menjadi terganggu.
Alergi penyebab asma dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Di samping itu, banyak permasalahan kesehatan lain yang menyertai berupa gangguan organ tubuh lain, gangguan perilaku, dan permasalahan kesehatan lainnya.
Sebuah studi di Australia, Selandia Baru, dan Inggris menunjukkan prevalensi asma anak meningkat dua kali lipat pada dua dekade terakhir. "Penderita asma pada anak-anak akan berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, tergantung dari derajat asma yang diderita dan penanganan yang dilakukan," ujar Spesialis Anak dari RS Hermina Dr Bambang Supriyanto SpAK.
Sementara Prof Dr dr Heru Sundaru SpPD KAI menambahkan, pada umumnya penderita asma mengeluhkan adanya serangan dan gangguan pada aktivitas sosial dan aktivitas sehari-hari. Penderita juga dibekali pengetahuan agar semakin sadar dan mengenali gejala yang dialami.
Mereka juga mengharapkan hidup berkualitas layaknya orang normal. Dengan asma yang terkontrol, penderita asma dapat hidup dengan kualitas yang baik
"Pasien diajarkan untuk mengenali serangan dan cara mengenalinya. Pemakaian dosis tepat untuk mengurangi efek samping," katanya. Dia pun menyarankan agar penanganan asma tidak hanya dengan farmakologi, juga latihan fisik. Misalnya, senam, bersepeda, dan berenang. Olahraga bertujuan untuk melatih otot-otot pernapasan dan otot lainnya. Tambahkan sebagai favorit (30) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 909
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |