Ketersediaan obat antiretroviral (ARV) untuk penderita HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome) dalam 2 pekan hingga 2 bulan mendatang dipastikan dalam kondisi krisis, jika pemerintah tidak segera melakukan terobosan pengadaan obat.
Prof. Syamsuridjal Djauzi, ahli penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Ma-ngunkusumo-yang banyak menangani masalah HIV/AIDS -mengungkapkan sejumlah rumah sakit di daerah melaporkan akan kehabisan obat ARV dalam kurun waktu 2 minggu hingga 2 bulan ke depan, jika tidak ada pasokan dari pusat.
"Kalau dalam 2 minggu tidak ada pengadaan obat, apa pun yang kita bicarakan tidak ada gunanya. Kami mengimbau dalam manajemen ARV mengutamakan keselamatan ODHA, jangan kepentingan sepihak atau departemen," katanya kemarin.
Dia memaparkan RS Dharmais Jakarta akan kehabisan persediaan obat ARV dalam waktu dua pekan dan stok obat ARV di RS Cipto Mangunkusumo juga akan habis dalam waktu 1 bulan.
Syamsul Arifin, Dirut PT Kimia Farma Tbk-perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk memproduksi ARV, menyatakan ke- langkaan pasokan ini lebih disebabkan oleh persoalan distribusi yang kurang lancar. Perseroan sudah memproduksi dan me-ngirimkannya ke Depkes.
Dia menuturkan selain persoalan distribusi, sebenarnya ketersediaan obat untuk kalangan ODHA di Tanah Air ini masih minim dibandingkan dengan jumlah sebenarnya pengidap HIV. "Seharusnya jumlahnya bisa lebih besar karena yang membutuhkan sebenarnya jauh lebih banyak," katanya kepada Bisnis.
Dari lima jenis obat ARV yang dibutuhkan, empat di antaranya saat ini telah diproduksi oleh PT Kimia Farma. Jumlah pengguna obat ARV di Indonesia saat ini sekitar 9.000 orang-10.000 orang dengan total pengidap HIV/AIDS mencapai 270.000 orang. Sekitar 95% pengguna obat ARV menggunakan obat lini pertama yang saat ini langka.
"Ini menjadi concern kami, kondisi sekarang sudah krisis karena beberapa jenis ARV yang dibutuhkan sudah hilang di beberapa tempat."
Syamsuridjal menuturkan beberapa rumah sakit saat ini mulai melakukan pengadaan obat ARV dalam skala kecil, namun penanganan secara komprehensif dan jangka panjang perlu dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini secara nasional.
"RS Hasan Sadikin di Bandung sudah mengalokasikan Rp200 juta untuk menutup keterlambatan pasokan obat dari pusat, sehingga penderita tidak putus obat. KPA [Komisi Penanggulangan HIV/AIDS] saya dengar punya dana Rp1,8 miliar, ini harus segera diadakan."
Persoalan distribusi
Syamsul Arifin, Dirut PT Kimia Farma Tbk-perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk memproduksi ARV, menyatakan kelangkaan pasokan ini lebih disebabkan oleh persoalan distribusi yang kurang lancar. Selaku produsen, pihaknya sudah memproduksi dan mengirimkan obatnya ke Depkes.
Dia menuturkan selain persoalan distribusi, sebenarnya ketersediaan obat untuk kalangan ODHA di Tanah Air ini masih minim dibandingkan dengan jumlah sebenarnya pengidap HIV. "Seharusnya jumlah- nya bisa lebih besar karena yang membutuhkan sebenarnya jauh lebih banyak," katanya, kepada Bisnis.
Dari lima jenis obat ARV yang dibutuhkan, empat di antaranya saat ini telah diproduksi oleh PT Kimia Farma. Jumlah pengguna obat ARV di Indonesia saat ini sekitar 9.000 orang hingga 10.000 orang dengan total pengidap HIV/AIDS mencapai 270.000 orang. Sekitar 95% pengguna obat ARV menggunakan obat lini pertama yang saat ini langka. Last update : 16-11-2008 19:07
|
|
|