|
MASALAH psikis dan fisik kadang sulit dipisahkan. Gangguan fisik bisa membawa dampak pada psikis seseorang, begitu juga sebaliknya. Depresi merupakan salah satu contohnya.
Depresi diidentikkan menggambarkan situasi kehidupan sosial yang serbaterpuruk. Salah satu gangguan kejiwaan ini memengaruhi suasana hati, tubuh, dan pikiran seseorang. Keluhan utama yang dirasakan, seperti sedih dan murung hampir setiap waktu.
Penelitian terbaru mengungkapkan, derajat depresi walaupun dalam tingkat sedang mampu meningkatkan risiko osteoporosis. Seseorang yang mengalami depresi akan berisiko mengalami penurunan massa kepadatan tulang. Dengan demikian, depresi dikaitkan dengan faktor penyebab osteoporosis, selain faktor merokok dan jarang berolahraga.
Nah, penelitian juga menunjukkan ada kaitan antara depresi dan osteoporosis perempuan yang belum memasuki masa menopause.
"Selama ini hubungan antara depresi dan osteoporosis belum dikaitkan dengan wanita berusia muda," ujar peneliti dari National Institute of Mental Health (NIMH) Giovanni Cizza MD PhD, seperti dilansir dalam WebMD.
Dalam penelitian sebelumnya, hubungan antara depresi dan kehilangan massa tulang pada perempuan lanjut usia telah dibuktikan. Masih dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa penggunaan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) menyebabkan penurunan massa tulang pada perempuan lanjut usia semakin cepat.
Sementara itu, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam The Archives of Internal Medicine melibatkan 89 perempuan yang mengalami depresi tingkat sedang berusia antara 21 sampai 45 tahun. Selain itu, perempuan berusia 44 tahun yang tidak mengalami depresi.
Kecuali faktor depresi, perempuan dalam kedua kelompok tersebut sama-sama berisiko mengalami osteoporosis. Sebanyak 17% perempuan yang mengalami depresi dan diukur massa kepadatan tulangnya menunjukkan penurunan massa kepadatan tulang, terutama daerah paha dibandingkan mereka yang tidak mengalami depresi.
Di samping bagian paha, penurunan massa kepadatan tulang juga tampak di bagian tulang belakang. Sebanyak 20 persen perempuan depresi mengalami pengurangan di bagian tersebut dibandingkan perempuan yang tidak, yaitu sebanyak sembilan persen.
Cizza menambahkan, subjek sebanyak dua persen mengalami pengurangan massa tulang di bagian pinggang. Kondisi ini akan sama pada perempuan yang memasuki masa pramenopause karena berisiko tujuh kali kehilangan massa kepadatan tulang dan perempuan menopause yang cepat mengalami penurunan massa tulang.
Sementara itu, faktor risiko lain kehilangan massa tulang, seperti asupan kalsium, merokok, kurang olahraga tidak dapat menjelaskan perbedaan ini. Sebagai tambahan analisis penelitian, pasien yang menggunakan antidepresan tidak menjadi penyebab kehilangan massa tulang. "Penelitian ini menunjukkan depresi tingkat sedang juga berdampak terhadap tulang," ungkap Cizza.
Sebab itu, depresi dapat dikaitkan sebagai faktor risiko kehilangan massa tulang pada wanita pramenopause. Sebagai perawatan depresi, sebaiknya tidak mengabaikan faktor risiko terjadinya osteoporosis. Tambahkan sebagai favorit (22) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 370
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |