|
Senin, 08 September 2008
| Bahaya Di Balik Keindahan |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | ||||||
| Rabu, 16 Juli 2008 | ||||||
|
Kini kerap kita temui hasil seni merajah tubuh melekat di anggota tubuh orang sekitar kita. Paling tidak, anggapan pemilik tato tersebut akrab dengan dunia kekerasan dan kejahatan kini telah bergeser. Tato dipandang sebagai bagian dari kecantikan dan unsur untuk menunjukkan jati diri pemiliknya.
Kaum penggemarnya pun makin meluas hingga ke kalangan selebriti, olahragawan, eksekutif muda, remaja, dan ibu-ibu rumah tangga. Terutama penggemarnya dari kalangan remaja, bahkan perkembangannya begitu pesat. Berdasarkan sebuah survei di Amerika Serikat yang dilakukan dua tahun lalu, sekitar 36% remaja (usia 14 tahun) di negeri itu, hampir dipastikan, di tubuhnya ada rajahan tokoh-tokoh idola, bunga, serta berbagai ornamen lainnya. Namun, ternyata, ada fenomena yang berbalik yang mengiringi peningkatan jumlah pemilik tato ini. Hal ini bisa disimak dari hasil survei terbaru pada akhir tahun lalu. Dalam survei tersebut diungkapkan bahwa dari sekitar 10 juta orang yang bertato, 50% di antaranya, ternyata malah berniat menghilangkan rajahan itu. Banyak alasan yang dikemukakan mereka. Mulai dari sulit mencari pekerjaan hingga merasa bosan. Bahkan tak sedikit di antaranya yang menyatakan menyesal. Bisa jadi ini dapat menjadi pelajaran bagi orang yang ingin memulai memiliki tato tersebut. Banyak alasan mereka ingin berbalik, menghapus seni rajah tubuh di tubuhnya tersebut. Banyak dari mereka yang menyesal, lalu ada juga yang mengatakan bahwa tato juga berdampak buruk terhadap kesehatan. Salah satu contohnya, seperti yang dialami oleh Karl Fredrik Ljungberg, pesepak bola hebat yang kini bermain di klub West Ham. Dia kerap diistirahatkan gara-gara kerap terserang sakit kepala (migren) secara tiba-tiba dan tanpa sebab. Celakanya pula, pusing di kepalanya itu bisa berlangsung selama dua minggu. Cukup lama tim dokter kebingungan mencari penyebab migren ini. Mereka membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk melacak penyakit sang idola. Semula, tim dokter menyangka bahwa pusing di kepala Ljungberg karena kanker. Tapi, setelah melalui proses pemeriksaan yang panjang, akhirnya (pada Mei 2005) ketahuan juga biang keroknya: karena racun yang berasal dari tinta tato di tubuhnya. Layaknya kebanyakan selebriti dunia, begitu pula yang dilakukan Ljungberg. Ia merajah tubuhnya dengan dua gambar panther (macan kumbang), masing-masing di sisi kanan perut dan punggungnya. Menurut dokter yang memeriksanya, Ljungberg ternyata alergi dengan tinta tato. Dan alergi ini menimbulkan reaksi pada jaringan getah bening yang ada di pinggang, sehingga menyebabkan peradangan pada jaringan saraf. Saraf yang terganggu inilah yang ditengarai memicu migren. Merajah itu Berbahaya Sejatinya pula, mereka yang gemar merajah tubuh memang berisiko tinggi terserang berbagai penyakit. Merajah juga berarti melukai badan. Dari luka inilah lazimnya banyak bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Bahkan rasa sakit itu telah dirasakan sejak awal, ketika jarum tato mulai menusuk-nusuk bagian tubuh yang dirajah. Kerap, luka yang ditimbulkannya pun mengakibatkan iritasi sehingga berpeluang terinfeksi. Jika begitu kejadiannya, si ”korban” akan mengalami demam dengan suhu tinggi. Dengan kondisi selemah itu, niscaya tubuh semakin rentan terserang bibit penyakit. Begitu pula halnya dengan tinta tato. Umumnya yang banyak beredar di pasaran, tinta itu dibuat dari bahan kimia yang patut dikelompokkan ke dalam unsur logam berat, seperti arsenik, mercury, perak, emas, dan bismuth, yang berbahaya buat kesehatan. Lain halnya dengan tinta tato yang biasa digunakan oleh sejumlah penduduk asli di pedalaman. Karena dibuat dari ramuan tumbuhan-tumbuhan, tinta itu cenderung lebih aman. Menghilangkan Lebih Baik Prinsipnya, untuk menghilangkan tato, lapisan kulit yang terajah harus dikelupas atau dibakar. Untuk itu, teknik terbaru yang paling diminati adalah dengan sinar laser (Q-switched laser), yang di Indonesia mulai dikenal sejak 1990. Keunggulan dari cara ini tidak akan menimbulkan rasa sakit. Hal itu memungkinkan karena sebelum dilakukan penyinaran, si pasien akan dibius lokal. Selain itu, hasilnya pun bisa maksimal, yakni gambar rajahan bisa dihilangkan secara tuntas. Kalau saja ada kekurangannya, itu adalah biayanya yang tak sedikit. Untuk ukuran kebanyakan, biaya itu bahkan terbilang amat mahal. Hanya untuk menghilangkan tato seukuran kartu kredit, minimal dibutuhkan Rp 50 juta—masih jauh lebih mahal ketimbang ongkos untuk merajahnya yang berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Bayangkan, berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk menghilangkan rajahan yang ada di seluruh tubuh? Dalam ilmu kedokteran, merajah tubuh didefinisikan sebagai tindakan sengaja yang berpotensi menimbulkan kelainan pada kulit. Selain karena tato, kelainan pada kulit juga bisa disebabkan oleh sengatan sinar matahari yang berlebihan, pengaruh obat-obatan, dan terkena bahan kimia. Dan prinsipnya, semakin luas permukaan tubuh yang ditato, maka akan semakin besar pula risiko gangguannya. Dengan tato, karena merasa lebih gagah atau cantik, memang bisa mendorong seseorang jadi tambah percaya diri. Tapi, jika mengingat efek buruknya, kegemaran yang satu ini jadi begitu menakutkan. Tambahkan sebagai favorit (8) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 105
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
|
|
||||||||
|
|
||||||||
|
|



























































