| Serba-Serbi Alergi |
|
|
|
| Written by Administrator | |||
| Wednesday, 13 August 2008 07:00 | |||
|
Alergi kerap dianggap angin lalu. Padahal, persentase anak pengidap alergi amatlah besar. Komplikasi akibat alergi bisa mengganggu perkembangan fisik dan fungsi otak anak. Ada serangkaian tes yang bisa diambil untuk menentukan jenis alergi si kecil.
Berdasar penelitian Badan Kesehatan Dunia atau WHO, saat ini satu dari empat anak di dunia didiagnosa mengidap alergi. Yang jadi masalah, alergi pada anak tidak sesederhana yang kita ketahui. Alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali, mulai ujung rambut sampai ujung kaki, dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Penyakit atau masalah kesehatan ini dapat dibantu penyembuhannya dengan mengkonsumsi Susu Kolostrum secara rutin. Alergi, jelas dr. Widodo Judarwanto, SpA, dari Allergy Behaviour Clinic, merupakan suatu proses inflamasi (peradangan) yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat, melainkan juga proses inflamasi kronis yang kompleks dipengaruhi faktor genetik, lingkungan, dan pengontrol internal. Faktor genetik sangat berperan dalam "penularan" alergi. Maksudnya, jika kedua orangtua mengidap alergi, maka 60-80 persen anak kemungkinan mengidap alergi. Jika hanya salah satu orangtua yang mengidap, seorang anak kemungkinan 30-40 persen mengalami hal sama. Sementara jika ayah-ibunya tidak mengidap alergi, kemungkinan anak terkena alergi kira-kira 5-15 persen. Gejala Mirip TBC Gejala umum alergi mirip penyakit TBC. Misalnya, sering batuk, berat badan tidak bagus, makan susah, dan berkeringat di malam hari. "Akibatnya, sering terjadi overdiagnosis TBC. Artinya, minum obat jangka panjang padahal belum tentu menderita TBC," ujar Widodo. Berikut gejala pada bayi yang sering dikaitkan dengan alergi : - Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan, terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. - Sering muntah/gumoh, kembung, cegukan, buang angin keras, sering rewel gelisah terutama malam hari. - Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering. - Napas berbunyi grok-grok, kadang disertai batuk ringan. - Sesak pada bayi baru lahir. - Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga berisiko kepala peyang. - Mata berair atau timbul kotoran mata pada salah satu atau kedua sisi. - Mudah kaget jika ada suara keras. Gerakan kaki, tangan, dan bibir sering gemetar, kejang. - Sering mengalami problem minum ASI. Bayi sering menangis (karena perut tidak nyaman) seperti kehausan sehingga minum ASI berlebihan. Padahal, sering menangis belum tentu karena haus atau asupan ASI kurang. Khusus pada anak penderita autis, alergi bisa memperburuk gejala autis. Tak bisa tidak, makanan untuk anak autis juga harus dikendalikan. Anak sehat juga mengalami gangguan tetapi tak seberat dan seekstrim pada anak autis. Jadi Lambat Bicara Alergi sering membuat beberapa anak sulit makan sehingga berat badan terganggu dan susah naik. "Anak-anak jadi kekurangan vitamin, mineral, dan zat besi. Ciri-cirinya timbul setelah empat atau enam bulan. Nah, sering kali, orangtua baru menyadari hal ini setelah berat badan anaknya kurang setelah satu tahun," jelas Widodo. Masih menurut Widodo, anak-anak yang sulit makan, 35 persen kemungkinan menderita alergi. Anak-anak yang menderita alergi, daya tahan tubuhnya tidak bagus dan gampang terkena infeksi saluran pernafasan atas, infeksi berulang seperti panas, batuk, dan pilek. "Jika anak lain terkena batuk-pilek dua atau tiga bulan sekali, anak-anak yang memiliki alergi bisa setiap bulan sakit. Bahkan bisa sebulan dua kali. Anak-anak yang sering batuk pilek, lebih berisiko menderita amandel." Gawatnya, tambah Widodo, alergi dapat mengganggu fungsi otak sehingga sangat mengganggu perkembangan anak. Gangguan fungsi otak ini menimbulkan gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi dan emosi, keterlambatan bicara, hingga autisme. Tiga Cara Diagnosa Widodo mengatakan, tidak gampang mendiagnosis alergi makanan. Ada beberapa cara. Yang pertama, gold standard atau memastikan makanan penyebab alergi dengan memberi kapsul berisi sari makanan. Jika alergi, pemberiannya dihentikan. Namun cara ini rumit, relatif mahal, dan butuh waktu lama. Cara kedua, dengan pemeriksaan kulit. Tingkat sensitivitas tes ini tinggi, namun kadar spesifikasinya (kekhususannya) rendah. "Dalam hal ini, tidak semua alergi terdeteksi. Kalaupun terdeteksi, tidak spesifik apa peyebabnya. Di kulit, yang terdeteksi adalah yang bereaksi cepat seperti debu atau udara, sementara makanan bereaksi lambat. Setelah makan, belum tentu langsung keluar gejala alergi," jelas Widodo. Cara ketiga, dengan menunda. Yaitu menghindari semua makanan hingga semua gejala alergi hilang. Setelah gejalanya hilang, baru dicoba makanan satu per satu. Cara ini lebih mudah dilakukan. Lebih jauh, ada sebagian masyarakat berpendapat, misalnya jika seorang anak alergi udang, ya, diberi udang terus agar kebal. "Itu ada betulnya karena akan membaik jika ia sudah beranjak dewasa. Meski kadang tidak bisa hilang sama sekali, alergi makanan akan berkurang secara bertahap di atas usia 2-7 tahun karena seiring bertambahnya usia, saluran pencernaannya makin membaik." Tips Kurangi Komplikasi Alergi dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan serta perkembangan anak, sekaligus meminimalkan komplikasi yang ditimbulkan. Risiko dan tanda-tanda alergi dapat diketahui sejak dalam kandungan. Caranya dengan memeriksa cairan ketuban. Tetapi cara ini susah karena berisiko dan hanya dilakukan untuk tujuan penelitian. Menurut Widodo, parameter deteksi alergi belumlah jelas. "Namun, dari penelitian awal yang saya lakukan, ternyata gerakan bayi yang berlebihan di dalam perut, faktor risiko alergi pada anak, kemungkinan tinggi. Apalagi jika si ibu memiliki alergi. Jika ada gejala ini, kita minimalkan pasokan makanan dari ibunya, yang diduga menyebabkan alergi." Apa saja makanan yang diduga jadi penyebab alergi? "Yang sering adalah seafood dan kacang tanah. Bila tidak diatasi sejak masih dalam kandungan, ada kemungkinan jika bayi lahir, sesak napas. Anak-anak seperti ini juga berisiko terkena asma," tandas Widodo. Untuk meminimalkan komplikasi yang ditimbulkan oleh alergi, Widodo menyarankan beberapa hal berikut: * Perlu mengetahui berbagai gejala alergi pada anak. * Memantau berat badan anak. Salah satunya dengan menggunakan grafik berat badan. * Perlu mencermati gejala alergi pada orang dewasa. FORTICO susu bubuk skim dengan kolostrum diformulasikan dan dikembangkan secara khusus oleh Smart Naco, Sdn, Bhd. ini adalah komponen Bio-aktif yang diperoleh dari sumber bahan terbaik dari New Zealand untuk meningkatkan kesehatan secara maksimum. Dapatkan Susu Kolostrum FORTICO original hanya di SusuKolostrum.com. Untuk pemesanan silahkan sms nama, alamat, nomor telepon dan jumlah pesanan ke 085692263999. Ongkos kirim GRATIS ke seluruh Indonesia.
|
|||
| Last Updated on Wednesday, 25 June 2008 03:36 |
Berita Terbaru
| Produk Baru: Chlocyanin 21/05/2012 | Administrator Mulai tanggal 1 Juni 2012, kami menyediakan produk baru yang bernama Chlocyanin. Chlocyanin adalah serbuk minuman alami yang merupakan perpaduan antara KLOROFIL (CHLOROPHYLL) yaitu pigmen hijau d [ ... ] | Berita Lainnya | |
Berita Kesehatan
| Hati-Hati...Susu Formula Bikin Bayi Kegemukan Lho 06/06/2012 | Administrator Bayi yang mengkonsumsi susu formula ternyata adalah yang paling rawan mengalami kegemukan pada usia lima tahun.Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya berat badan bayi dalam waktu yang lebih [ ... ] | Berita Lainnya | |
Artikel Terbaru
| Alquran dan Sains: Manfaat Air Susu Ibu (ASI) 25/04/2012 | Administrator Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal Setelah proses penciptaan dan perkembangan janin sempurna, maka janin tersebut siap untuk meninggalkan tempat di mana selama ini ia tempati, y [ ... ] | Artikel Lainnya | |
Artikel Kesehatan
| Anak Alergi Susu, Kok Bisa? 04/04/2012 | Administrator Alergi susu dapat diartikan ketika sistem kekebalan anak keliru dalam mengenali protein susu sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dilawan. Gejala yang terjadi pada alergi susu sapi secara umum ham [ ... ] | Artikel Lainnya | |
Tips Kesehatan
| Pengapuran? Bukan Susu Obatnya 04/04/2012 | Administrator Selama ini, masyarakat awam sering menyamakan osteoporosis dengan pengapuran. Padahal, menurut ahli ortopedik, dr Andre Pontoh, SpOT, kedua hal ini beda jauh. Menurutnya, Osteoporosis adalah penyakit [ ... ] | Tips Lainnya | |
Info Sehat
| Mengenal Susu dan Manfaatnya 22/05/2012 | Administrator Dalam menu sehat dikenal istilah "empat sehat lima sempurna". Penyempurna ini adalah susu. Istilah ini tidak berlebihan karena minuman putih bersih ini memiliki kandungan nutrisi yang lengkap diband [ ... ] | Info Lainnya | |
Data Penyakit
| Sindrom Noonan Sindrom Noonan DEFINISI Sindrom Noonan adalah kerusakan genetik yang menyebabkan sejumlah kelainan fisik, biasanya termasuk perawakan pendek, kerusakan jantung, dan penampila [ ... ] | Data Lainnya | |














