| Bebas Candu dengan Obat |
|
|
|
| Written by Administrator | |||
| Thursday, 14 August 2008 11:32 | |||
|
Berhenti merokok, bagi kebanyakan perokok berat, bukanlah urusan ringan. Itu pula yang dirasakan Gatot Indroyono. "Sejak memutuskan berhenti merokok, saya terus-menerus batuk selama tiga bulan," ujar Gatot. lelaki 39 tahun itu mengaku sering merasa lelah dan sulit berkonsentrasi.
Ditambah lagi, setiap saat timbul keinginan untuk merokok. Keinginan untuk merokok, kata Gatot, baru bisa hilang pada bulan keempat. Manajer Marketing PT Tito Film itu mengisahkan, dibandingkan dengan efek personal yang dialami, efek sosial ketika berhenti merokok jauh lebih berat.
Beberapa temannya yang perokok berat, menurut Gatot, sempat menjulukinya bukan laki-laki sejati lantaran tak lagi merokok. Namun, berkat dukungan keluarga dan kesadaran bahwa rokok tidak memberikan manfaat bagi kesehatan, motivasinya tetap terjaga. "Kuncinya, jangan pernah mencoba sekali pun. Karena kalau ada satu, pasti ada yang kedua," ujar Gatot. Apa yang diungkapkan Gatot ada benarnya, karena merokok dapat menimbulkan efek kecanduan. Nikotin yang terhirup bersama asap rokok akan diterima oleh reseptor otak. Lalu otak akan meningkatkan pelepasan dopamin, salah satu neurotransmiter otak. Dopamin menimbulkan perasaan nyaman dan ketenangan. Pada saat tidak merokok, kadar dopamin menurun sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan terkadang stres. Neurotransmiter adalah senyawa di otak yang berperan dalam komunikasi antar-sel saraf. Itulah yang membuat orang sulit berhenti merokok. Tapi berhenti rokok tak lagi harus dianggap sebagai hal yang menyebalkan. Sebab, dengan vareniklin, efek tidak nyaman itu dapat diatasi. Obat anti-merokok pertama di Indonesia tersebut diluncurkan awal bulan ini di Jakarta. Menurut Dokter Irawan Rustandi, Direktur Medis PT Pfizer Indonesia, vareniklin bekerja pada reseptor nikotin yang terdapat di otak dengan dua cara. Yaitu menstimulasi reseptor untuk melepaskan dopamin secara parsial sehingga menurunkan gejala-gejala berupa pusing kepala, sulit berkonsentrasi, dan perasaan kurang enak yang timbul karena proses berhenti merokok. Selain itu, juga menghalangi nikotin menempel pada reseptor dan mengurangi rasa nikmat yang ditimbulkan dari rokok jika pasien merokok kembali. Efektivitas obat tersebut teruji dalam studi terhadap 2.000 perokok. Obat itu dibandingkan dengan plasebo dan obat lain yang serupa pemanfaatannya. Sebagian diberi terapi vareniklin 1 mg dua kali per hari. Sebagian lagi diberi terapi plasebo (obat bohongan) dan obat lain dengan dosis 150 mg, dua kali sehari. Setelah setahun, pasien yang mendapatkan vareniklin memiliki kemungkinan hampir tiga kali lipat untuk tetap tidak merokok dibandingkan dengan pasien yang berhenti merokok tanpa obat. Bila dibandingkan dengan plasebo, efektivitasnya empat kali lipat lebih baik, sedangkan dengan obat lain dua kali lipat. Studi lain melibatkan 1.210 perokok, yang setelah 12 pekan pertama diberi vareniklin 1 mg dua kali sehari berhasil berhenti merokok dan diteruskan 12 minggu berikutnya menggunakan vareniklin atau plasebo secara acak. Hasilnya, perpanjangan terapi vareniklin dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam berhenti merokok sebesar 70% pada minggu ke-24. Berdasarkan hasil uji klinis, vareniklin dinyatakan aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping paling umum, kurang dari 10% pasien mengalami mual, sakit kepala, insomnia (kurang tidur), dan mimpi abnormal. Ahli paru-paru pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa terapi paling efektif untuk dapat berhenti merokok adalah motivasi dari perokok. Selain itu, perlu dukungan keluarga dan orang sekitar. "Dengan motivasi, 50% pasien berhasil berhenti merokok," kata Dokter Tjandra Yoga. Obat digunakan apabila pasien perokok berat. Yaitu orang yang sudah sangat kecanduan rokok. Tandanya adalah keinginan merokok pada 30 menit pertama setelah bangun tidur. "Bagi perokok berat, pengunaan obat akan sangat membantu," Dokter Tjandra Yoga menegaskan. Selama ini, di Indonesia belum ada obat untuk membuat orang berhenti merokok. Dulu pernah ada terapi pengganti nikotin. Belakangan, obat itu menghilang dari pasaran karena tak laku.
|
Berita Terbaru
| Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H 25/08/2011 | Administrator Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H, SusuKolostrum.com mengucapkan: | Berita Lainnya | |
Berita Kesehatan
| Panas Dalam Pertanda Banyak Gangguan 12/04/2010 | Administrator Panas dalam bukanlah penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit atau kelainan pada tubuh. Kondisi kelelahan, gangguan pencernaan, gangguan tenggorokan, tifus, hingga ketidakseimbangan hormon, bisa [ ... ] | Berita Lainnya | |
Artikel Terbaru
| Alquran dan Sains: Manfaat Air Susu Ibu (ASI) 25/04/2012 | Administrator Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal Setelah proses penciptaan dan perkembangan janin sempurna, maka janin tersebut siap untuk meninggalkan tempat di mana selama ini ia tempati, y [ ... ] | Artikel Lainnya | |
Artikel Kesehatan
| Lama Tak Minum Susu Bisa Diare? 19/05/2011 | Administrator Susu merupakan bagian dari menu seimbang. Namun sayangnya, masih banyak orang dewasa yang kurang menyadari akan pentingnya minum susu. | Artikel Lainnya | |
Tips Kesehatan
| Agar Asam Urat Tak Kambuh 21/05/2009 | Administrator Meski tak terlalu membahayakan, misalnya dibandingkan dengan penyakit jantung, kanker, dan diabetes, seseorang yang menderita asam urat (hiperuricemia) pasti kerap mengeluh. Gejala yang dialami pender [ ... ] | Tips Lainnya | |
Info Sehat
| Suplemen Ibu Hamil yang Halal 19/02/2009 | Administrator Produser susu instan memang lihai berdagang. Ibu hamil (bumil) dan menyusui pun dibidik. | Info Lainnya | |
Data Penyakit
| Sindroma Reye 05/01/2011 | Administrator
Sindroma Reye
DEFINISI
Sindroma Reye adalah suatu sindroma ensefalopati yang penyebabnya tidak diketahui, dan disertai dengan kemunduran fungsi hati. | Data Lainnya | |















