|
Saat seseorang didiagnosa menderita demam berdarah dengue (DBD), biasanya yang mendapat perhatian utama adalah mencari transfusi darah untuk mengganti jumlah trombosit yang turun. Padahal penanganan yang paling tepat adalah mengganti cairan tubuh yang keluar akibat kebocoran pembuluh darah, jumlah cairan tubuh yang cukup akan menghindarkan pasien dari sindrom shock dengue.
Menurut dokter Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.Trop Paed dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSCM, penderita DBD, khususnya anak-anak rentan mengalami gangguan keseimbangan cairan tubuh. Indikator pasien tidak mengalami dehidrasi menurut Hindra adalah jika pasien bisa buang air kecil setiap empat jam. "Jumlah cairan yang cukup pada fase kritis akan menghindarkan terjadinya perdarahan atau peremebesan plasma," ujarnya. Dijelaskan oleh Hindra, biasanya masa kritis terjadi pada hari keempat dan kelima sejak terjadinya demam dan hanya berlangsung selama 24-48 jam. Pada masa kritis ini biasanya suhu tubuh justru menurun. "Pada fase ini orangtua harus waspada karena bisa terjadi syok," paparnya. Tanda-tanda terjadinya syok yang perlu diwaspadai adalah kulit dingin, lembab, tidak buang air kecil selama 4-6 jam, nyeri perut hebat, mengantuk, menolak untuk makan dan minum, terjadi perdarahan, dan keringat dingin. Hindra menyarankan agar pasien dirawat di rumah sakit pada masa kritis untuk mencegah syok dan perdarahan. "Pasien harus diberikan cairan pengganti lewat mulut atau infus," katanya. Meski jumlah trombosit pasien masih di bawah 100.000, namun jika telah melewati masa kritis, menurut Hindra pasien sudah diperbolehkan pulang. "Berdasarkan survei di RSCM, setelah lewat masa kritis tidak ada lagi pasien yang shock dan mengalami indikasi perdarahan, sehingga mereka diijinkan pulang. Lagipula menurut standar WHO, jumlah trombosit yang aman adalah 50.000," paparnya. Sebelumnya dokter Handrawan Nadesul juga menyebutkan kematian pasien DBD lebih disebabkan oleh kegagalan sirkulasi darah (darah mengental atau hemokonsentrasi). Untuk mengejar agar darah tidak bertambah kental yang mengancam bakal terjadinya syok, menurutnya pemberian cairan tidak boleh terlambat diberikan. Pemberikan transfusi darah untuk menambah jumlah trombosit menurut Hindra sebaiknya hanya bila ada perdarahan nyata disertai penurunan jumlah trombosit. "Tidak semua pasien DBD perlu diberi trombosit, hanya yang memerlukan saja," katanya. Tambahkan sebagai favorit (14) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 175
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |