|
Hampir setiap orang pernah menderita batuk. Batuk sendiri terdiri dari berbagai macam, ada batuk ringan yang sembuh sendiri dalam waktu 5-6 hari, hingga batuk kronik yang terjadi lebih dari tiga minggu. Salah satu jenis batuk yang cukup berbahaya adalah batuk 100 hari atau batuk rejan (pertusis). Batuk ini sangat menular dan umumnya menyerang anak-anak, namun tak sedikit orang dewasa yang terkena.
Batuk 100 hari disebabkan oleh bakteri bordetella pertussis. Bakteri ini akan mengganggu sistem pernapasan, yaitu hidung, tenggorokan, trakhea, dan paru. Pertusis menular melalui udara secara kontak langsung yang berasal dari percikan ludah atau lendir dari penderita selama batuk. Selain sangat menular, penyakit ini juga bisa menimbulkan komplikasi serius bahkan mematikan, terutama pada bayi.
"Batuk 100 hari dahulu memang berlangsung lama karena belum ada obatnya. Sekarang ini bayi-bayi yang sudah mendapat vaksin DPT bisa terhindar dari batuk ini," kata dr.Dianiati Kusumo Sutoyo, Sp.P (K), dari RS.Persahabatan Jakarta, yang disapa dokter Titi ini. Meski sudah mendapat vaksin, dokter Titi mengatakan bahwa balita tetap mungkin terkena pertusis. "Biasanya karena daya tahan tubuh lemah," tambahnya.
Ciri anak yang menderita batuk 100 hari adalah gejala batuk bertubi-tubi diakhiri suara lengkingan, disertai pilek dan demam. Karena batuk terjadi bertubi-tubi, penderita bisa kehabisan oksigen, akibatnya wajah menjadi kebiruan, terkadang kejang, bahkan perdarahan.
Pencegahan Batuk ini pada dasarnya bisa menyerang siapa saja, jika menyerang remaja dan orang dewasa penyakit ini tidak terlalu berbahaya, namun pada bayi dan balita memiliki risiko mematikan. Karenanya bayi berusia di bawah 18 bulan disarankan untuk dirawat inap di rumah sakit untuk mendapat pengawasan.
Untuk mengobati batuk rejan diperlukan antibiotik golongan makrolid , seperti klaritromisin atau azitromisin. Obat batuk tidak disarankan diberikan. Namun, karena dikhawatirkan batuk pertusis yang hebat bisa menyebabkan anak kekurangan oksigen (karena ia tidak sempat menarik napas di sela-sela batuknya itu), maka obat antitusif boleh diberikan. Untuk mencegah dehidrasi, pasien juga perlu diberi cairan lewat infus.
Sejak tahun 1970-an, pemerintah telah mewajibkan setiap bayi mendapat imunisasi DPT. Dalam perjalanan waktu, kemampuan vaksin untuk melindungi sangat mungkin berkurang sehingga perlu dilakukan vaksin ulang. Selain itu penderita batuk rejan perlu diisolasi untuk mencegah penularannya. Meski namanya batuk 100 hari, namun lama batuk ini tidak benar-benar pas 100 hari, bisa sembuh lebih cepat atau batuk lebih lama. Untuk itu pasien sebaiknya berobat ke dokter ahli di bidang respirologi. Tambahkan sebagai favorit (9) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 128
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |