|
Senin, 07 Juli 2008
| Sehat Berkat Berpuasa |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | ||||||
| Rabu, 12 September 2007 | ||||||
|
Puasa pada bulan Ramadhan, kenyataannya bukan hanya membersihkan jiwa, melainkan sekaligus meningkatkan kesehatan seseorang. Para ahli sepakat, puasa bisa digunakan sebagai salah satu metode pembersihan tubuh. Bahkan lebih dari itu, puasa bisa pula dimasukkan sebagai salah satu strategi antipenuaan.
Tak bisa dihindari, pengendalian diri merupakan unsur utama dalam berpuasa. Tentu, pengendalian diri di sini adalah pengendalian dalam pengertian sebenarnya, yaitu tidak sekadar menahan lapar dan haus dari pagi hingga petang. Di masa puasa, seseorang pun harus mampu mengendalikan seluruh gerakan dan tindakan mata, telinga, lidah, bahkan bagian-bagian tubuh yang sangat pribadi dengan sangat baik. Semua itu dilakukan karena bulan Ramadhan juga berarti kemampuan mengendalikan kemarahan, lebih melakukan tindakan yang berguna, disiplin diri, untuk akhirnya menjadi manusia yang lebih baik. Setidaknya hal itu menurut pandangan Prof Dr Mohammad Zafar A Nomani, pakar nutrisi dari Universitas Virginia Barat, Amerika Serikat. Dalam artikel berjudul Diet During Ramadhan, mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nomani menggarisbawahi, kemampuan mengendalikan diri itulah yang membuat seseorang bisa dengan tegas mengatakan, "saya sedang puasa" ketika menghadapi serangkaian tindakan yang bersifat kasar. Menurut dia, menahan diri dari lapar, haus, dan tindakan kurang baik akan membuat seseorang lebih sehat secara mental. Karena itu, seseorang yang berhasil menunaikan ibadah puasa dengan penuh, diharapkan akan "terlahir" kembali menjadi orang yang lebih baik. Untuk memperkuat asumsi itu, Nomani mengutip penelitian yang dilakukan di Jordania dan Inggris. Pada bulan Ramadan, tingkat kejahatan di Jordania turun secara signifikan, sedangkan di Inggris, berbagai organisasi kesehatan setempat menggunakan masa berpuasa sebagai salah satu metode menghentikan kebiasaan merokok di depan umum. Terukur dan tidak berlebihan International Ramadan Fasting Research mengatakan, di saat berpuasa, tingkat metabolisme seseorang bergerak lambat atau menurun. Namun, kondisi ini justru memicu fungsi mekanisme lain yang biasa bergerak secara reguler. Dalam kondisi seperti ini, tubuh dan lemak yang ada justru dimanfaatkan secara efektif. Nomani menegaskan, dengan makan di saat buka dan sahur secara proporsional, yaitu terukur, tidak terlalu banyak dan sesuai kebutuhan tubuh, puasa akan memperbaiki profile kolestereol di dalam darah, mengurangi asam lambung, dan mencegah sembelit serta problem pencernaan lain. Ia menegaskan, problem kesehatan yang sering muncul di masa puasa, justru disebabkan oleh makan yang berlebihan di kala buka dan sahur. Hal itu tidak hanya mengganggu masalah kesehatan, tetapi sekaligus membuat diet tidak seimbang sehingga menyebabkan susah tidur. Namun lebih dari itu, Nomani mengingatkan, pola dan gaya makan yang berlebihan di masa puasa bertentangan dengan semangat dan tujuan utama puasa di bulan Ramadhan. Dr Shahid Athar MD, pakar nutrisi juga dari Universitas Virginia Barat, memperkuat asumsi tersebut. Ia menekankan, mengistirahatkan organ pencernaan dari pagi hingga petang hari merupakan masa terbaik. Melalui artikel The Spiritual and Health Benefits of Ramadan Fasting, Athar mengatakan, mengistirahatkan organ pencernaan akan membantu seseorang mengontrol berat badan dan menurunkan kadar lemak. Ditegaskan, menahan lapar dan haus selama sekitar 14 jam, sama sekali tidak berpengaruh buruk bagi kesehatan. Sebaliknya, di masa itu, terjadi pemusatan seluruh cairan di dalam tubuh yang menyebabkan dehidrasi ringan. Namun, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme penyimpanan cairan sendiri. Karena itu, terjadinya dehidrasi ringan yang dibarengi dengan sistem penyimpanan air di dalam tubuh, kenyataannya, bisa meningkatkan harapan hidup seseorang atau menambah umur panjang. Lebih dari itu, puasa pun memberi efek psikologis yang cukup positif. Setidaknya, puasa akan menurunkan tingkat gula dalam darah, kolesterol, dan tekanan darah. Karena itu, puasa Ramadhan justru direkomendasikan untuk perawatan para penderita diabetes non-insulin, obesitas, dan hipertensi pada tingkat ringan hingga moderat. Puasa yang dijalankan secara seimbang dan baik, pada akhirnya berpengaruh pula pada tingkat keremajaan kulit. Secara umum dikatakan, menahan rasa lapar ketika masa puasa, mempercepat penghancuran jaringan tubuh yang telah rusak. Diimbangi dengan makanan dalam buka dan sahur yang penuh gizi, akan tumbuh jaringan baru untuk menggantikan jaringan yang rusak tersebut. Penuaan Dr Leon Chaitow, guru besar dari Universitas Westminster, London, Inggris, mengatakan, fase penuaan adalah akibat dari kehidupan itu sendiri. Seperti dikutip Lifeforce Plan.com, Dr Chaitow menekankan, menumpuknya toxic di dalam tubuh kadang tidak bisa dihindarkan. Karena, merupakan bagian proses alamiah manusia seperti pertumbuhan, pubertas, hingga menopause, yang telah terprogram di dalam sel-sel manusia. Dalam hal ini, para ahli kemudian hanya mampu memperlambat proses tersebut. Kenyataannya, proses itu hanya bisa diperlambat dengan sistem yang dinamakan "pembatasan kalori". Ia mengakui, sistem pembatasan kalori berhasil mencegah atau paling tidak memperlambat penuaan dan perusakan tubuh yang berakibat pada kematian. Dr Chaitow menekankan, puasa menjadi salah satu metode terbaik untuk melaksanakan sistem "pembatasan kalori" tersebut. Nah, selamat berpuasa! *** (dari Kompas) Tambahkan sebagai favorit (19) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 258
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 12 September 2007 ) | ||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
|
|
||||||||
|
|
||||||||
|
|








































































