-->
| Puasa Untuk Detoks |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | ||||||
| Sabtu, 15 September 2007 | ||||||
|
Ada banyak cara melakukan detoksifikasi. Lewat puasa, salah satunya. Namun, puasa yang seperti apa agar racun di dalam tubuh dapat hilang? Detoksifikasi, atau lebih dikenal dengan istilah detoks, menurut Konsultan Kesehatan dari Siloam Hospitals, Dr. Samuel Oetoro, M. S. SpGK, adalah menetralisir zat-zat berbahaya (toksin) yang masuk ke dalam tubuh manusia. Jika kita banyak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak serat, seperti buah-buahan dan sayuran, penyerapan zat berbahaya tersebut akan diganggu atau dihadang oleh serat kemudian akan dibuang keluar dari dalam tubuh. Oleh karena itu, lanjut Samuel, orang yang rajin dan banyak makan sumber makanan berserat, buang air besarnya akan lancar. Namun, jika zat-zat berbahaya itu terlanjur masuk ke dalam tubuh, ia tetap akan dinetralisir di dalam tubuh oleh liver atau hati. "Sebenarnya organ tubuh yang paling berfungsi mendetoksifikasi secara optimal itu adalah hati. Hanya saja, banyak orang menghubung-hubungkan antara makan serat, minum jus, dan puasa dengan detoks. Sebetulnya itu bukan detoks yang sesungguhnya, melainkan hanya usaha menangkal zat-zat bahaya yang baru masuk ke dalam tubuh saja." Atur Porsi Makan Ketika manusia mengisi tubuhnya dengan makanan yang buruk ke dalam tubuh, tubuh perlu diistirahatkan. Di sinilah pentingnya fungsi puasa, yaitu untuk menginstirahatkan sementara sel-sel dari menerima segala jenis makanan dan mengubah fungsinya untuk memetabolisme zat-zat di dalah tubuh. Oleh karena itu, kata Samuel, tak heran jika puasa sering kali berefek sebagai detoksifikasi. Akan tetapi, detoksifikasi dengan jalan puasa akan menjadi sia-sia saat berbuka puasa dan sahur mengonsumsi makanan yang tidak memenuhi kandungan gizi seimbang, atau makan seenaknya saja tanpa memerhatikan nilai gizinya. Itu sama saja dengan memasukkan zat-zat tak berguna ke dalam tubuh setelah berpuasa seharian. Oleh karena itu, Samuel memberi saran agar orang yang berpuasa dapat mengatur porsi makannya saat sahur dan berbuka. "Gampangnya, pada saat sahur makanlah sebanyak 40% dari porsi total makan sehari-hari kita, lalu 50% pada saat berbuka, dan 10% lagi menjelang tidur. Fungsinya, agar kita tetap memiliki cadangan makanan untuk esok harinya." Perhitungan ini, kata Samuel, agar orang yang memiliki berat badan ideal, akan tetap memiliki berat badan yang sama setelah menjalani puasa selama sebulan. "Sebab, pada dasarnya manusia tidak mengurangi aktivitasnya selama ia berpuasa. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya banyak, tetap memerlukan bahan makanan sebagai tenaga. Jadi, seharusnya makannya sama dengan kebiasaaan sehari-hari. Hanya jadwal makannya saja yang diubah." Menurut Samuel, perhitungan persentase makan saat sahur, buka, dan menjelang tidur haruslah memenuhi syarat gizi seimbang. Dengan kata lain harus ada karbohidrat, protein, lemak yang baik, serta cukup buah-buahan dan sayuran (makanan berserat). "Yang terbaik adalah mengatur makanannya dan tetap dengan gaya makan yang sehat, memenuhi gizi seimbang, bebas kolesterol, mengurangi goreng-gorengan, makanan bersantan, dan kuning telur yang mengandung lemak yang buruk. Perbanyaklah makan sayuran, buah-buahan, ikan, daging ayam tanpa kulit. Kalau bisa, hindari makan daging merah, seperti kambing atau sapi."
Sumber : Nova Tambahkan sebagai favorit (14) | Kutip artikel ini pada situs Anda | Dilihat: 224
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
|
|
||||||||
|
|
||||||||
|
|






































































